Rencana Besar di Balik Lonjakan Saham Happy Hapsoro CBRE yang Melonjak 6.500%

admin.aiotrade 07 Okt 2025 3 menit 11x dilihat
Rencana Besar di Balik Lonjakan Saham Happy Hapsoro CBRE yang Melonjak 6.500%

Harga saham dari perusahaan yang terkait dengan suami ketua DPR RI Puan Maharani, Happy Hapsoro, yaitu PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), mengalami lonjakan yang sangat signifikan. Sejak awal tahun, harga saham CBRE melonjak lebih dari 6.500%, membuat emiten ini menjadi pusat perhatian para investor di pasar modal.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Hubungan afiliasi antara Hapsoro dan CBRE muncul karena keterkaitan korporasi antara Hapsoro melalui PT Basis Utama Prima dengan jaringan emiten yang bersinggungan dengan CBRE. Meskipun begitu, Hapsoro bukanlah pengendali langsung CBRE.

Dalam profil perusahaan, Suganto Gunawan tercatat sebagai penerima manfaat akhir (ultimate beneficial owner) dan saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama CBRE. Suganto juga merupakan pemilik PT Omudas Investment, yang menjadi pengendali CBRE dengan kepemilikan sebesar 61,13%.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), saham CBRE kembali menyentuh auto reject atas (ARA) dua hari berturut-turut. Pada perdagangan Senin (6/10), saham CBRE ditutup naik 24,88% ke level Rp 1.255 per saham, mencapai harga tertinggi sepanjang masa atau all time high (ATH). Sejak awal tahun, harga sahamnya telah melonjak 6.505% dari Rp 19 pada 2 Januari 2025.

Rencana Besar CBRE

Lonjakan harga saham ini terjadi setelah CBRE mengumumkan rencana ekspansi bisnis besar-besaran, termasuk penambahan armada kapal yang akan dibahas dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 27 Oktober 2025.

Dalam keterbukaan informasi perseroan ke BEI, terdapat tiga agenda utama dalam rapat penting tersebut. Pertama, persetujuan pembelian armada kapal baru untuk pengembangan usaha, yang dikategorikan sebagai Transaksi Material sesuai POJK No. 17/2020 kepada para pemegang sahamnya.

Kedua, penerbitan promissory note kepada pihak ketiga sebagai mekanisme pembayaran pembelian armada. Ketiga adalah perubahan kegiatan usaha perseroan, termasuk revisi anggaran dasar dan pembahasan studi kelayakan.

Sebelumnya, CBRE telah mengumumkan rencana akuisisi kapal pipe-laying & lifting vessel senilai US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun dari Hilong Shipping Holding, anak usaha Hilong Holding Limited. Akuisisi ini akan mengubah model bisnis CBRE yang semula fokus pada kapal tunda dan tongkang menjadi penyedia jasa kapal lepas pantai (offshore vessel).

Perubahan tersebut juga akan menggeser sumber pendapatan perusahaan ke dalam denominasi dolar AS yang berpotensi meningkatkan laba bersih secara signifikan.

Aksi tersebut akan memperluas kegiatan usahanya ke layanan penunjang kegiatan lepas pantai, seperti pemasangan pipa bawah laut (pipe laying), dukungan pembangunan pembangkit listrik tenaga laut (offshore wind farm) hingga konstruksi kelautan lainnya.

Menurut manajemen CBRE, langkah ini didorong oleh meningkatnya kebutuhan infrastruktur energi laut, baik di sektor minyak dan gas (migas) maupun energi terbarukan.

Perseroan menilai segmentasi usaha ini memiliki potensi pertumbuhan jangka panjang yang menarik, margin keuntungan yang lebih menarik, serta memiliki peluang kemitraan strategis dengan kontraktor EPC dan operator energi besar baik secara nasional maupun internasional,” kata manajemen CBRE dalam keterbukaan informasi BEI dikutip Selasa (7/10).

Untuk mendukung diversifikasi tersebut, CBRE berencana menambah KBLI 52229 (Aktivitas Penunjang Angkutan Perairan Lainnya) agar dapat secara resmi menjalankan kegiatan baru itu sesuai ketentuan peraturan perundangan. Kegiatan baru tersebut diproyeksikan mulai berjalan pada kuartal pertama 2026.

Di tengah aksi besar CBRE, emiten ini disebut-sebut sedang mengincar posisi dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Small Cap. Masuk ke indeks bergengsi itu akan membuka peluang besar bagi saham CBRE masuk ke radar dana pasif dan manajer investasi global.

Dengan kapitalisasi pasar Rp 4,56 triliun, CBRE sebenarnya sudah memenuhi sebagian syarat. Namun, free float kapitalisasi pasar perusahaan masih di bawah ambang batas MSCI sebesar US$ 161 juta. Agar bisa memenuhi ketentuan itu tanpa menambah free float, harga saham CBRE perlu reli hingga sekitar Rp 3.000 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan